Friday, March 11, 2016

Pengantar Psikoterapi

Gambaran Umum dan Definisi
Psikoterapi adalah metode yang digunakan untuk merawat jiwa, emosional dan kelainan kejiwaan tertentu. Dikenal juga sebagai “terapi berbicara”, metode perawatan ini menolong pasien untuk mengenali masalah mereka, mengerti perasaan mereka, menerima kelebihan dan kelemahan mereka, dan membuat mereka menjadi untuk berpikir positif terhadap diri sendiri dan juga masalah-masalah sulit mereka. Pada intinya, psikoterapi terdiri dari komunikasi lisan dan non-lisan yang berguna untuk meringankan kesulitan psikologis.
Keuntungan dari Psikoterapi
Psikoterapi terbukti dapat menolong untuk merawat banyak masalah psikologis. Data statistic menunjukkan bahwa diatas 75% pasien yang mendapat perawatan psikoterapi mengalami keuntungan yang luar biasa. Metode ini juga telah menyediakan bantuan yang luar biasa bagi mereka yang sedang melewati krisis atau perubahan hidup yang tidak diinginkan. Keuntungan dari psikoterapi meliputi:
•   Membantu pasien untuk lebih memahami diri sendiri termasuk nilai dan tujuan hidup mereka
•   Mengajari pasien untuk memiliki keterampilan dalam hidup yang sangat penting (crucial life skill) agar dapat meningkatkan hubungan pribadi mereka
•   Menolong pasien untuk membuat solusi agar dapat menangani masalah mereka
•   Menolong pasien untuk mengerti masalah mereka dan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda

Sebagai tambahan, kondisi yang diketahui dapat diperbaiki dengan sangat baik melalui sesi psikoterapi adalah:
•   Depresi
•   Kegelisahan
•   Kelainan kegelisahan, termasuk fobia (takut akan sesuatu)
•   Alkoholisme
•   Kecanduan
•   Harga diri yang rendah
•   Krisis emosional
•   Perselisihan keluarga
•   Masalah pernikahan
•   Kelainan obsesif kompulsif (keinginan memiliki yang berlebihan)
•   Gangguan kejiwaan setelah suatu kejadian (post-traumatic stress disorder)
•   Kelainan kepribadian
•   Masalah terkait kekerasan terhadap anak
•   Masalah perilaku
•   Skizofrenia
Dua kondisi terakhir biasanya membutuhkan pengobatan anti-depresan dan obat-obatan lainnya ditambah dengan sesi psikoterapi teratur.
Kapan Bertemu dengan Psikolog?
Adalah normal untuk merasa sedih dan depresi pada titik tertentu hidup seseorang. Namun, ada kesulitan serius yang terjadi pada waktu yang lama dapat berakibat menjadi rantai dari emosi dan masalah yang mungkin tidak dapat dihadapi sendiri. Saat masalah mulai mencakup perubahan sifat yang tiba-tiba, ketegangan pada hubungan, dan menganggu kehidupan sehari-hari, Anda mungkin butuh untuk bertemu psikolog
Berikut adalah tanda-tanda yang dapat menjadi petunjuk dimana Anda butuh untuk dirujuk ke psikolog:
•   Perasaan sering marah dan gelisah yang selalu meningkat
•   Anda merasa tidak berdaya yang luar biasa pada waktu yang tidak tentu
•   Anda mengalami pengalaman buruk (traumatis) (seperti putusnya hubungan, kematian dari seseorang yang dicintai) yang tidak bisa Anda lupakan walaupun usaha yang dilakukan
•   Anda memilih untuk meminum alkohol atau makan yang berlebih untuk melupakan masalah
•   Tiba-tiba kehilangan minat pada kegiatan yang biasanya disukai
•   Anda mempunyai masalah mengutarakan perasaan anda, yang berujung pada tegangnya hubungan
•   Anda memiliki kesulitan untuk berkonsentrasi pada tugas pekerjaan
•   Anda khawatir berlebihan pada hal-hal sepele

Adalah penting untuk mengingat bahwa masalah dengan kesehatan jiwa, khususnya saat menjadi berkepanjangan (kronis), dapat berujung menjadi hasil yang melemahkan. Faktanya, depresi jangka lama atau kegelisahan dihubungkan kepada beragam kondisi fisik saat dibiarkan tak terawat. Jadi, jika anda menderita dari beberapa gejala yang telah disebutkan diatas, pilihan terbik adalah bertemu psikolog untuk mendapatkan perawatan yang sesuai.
Jenis dari Psikoterapi
Ada beberapa perawatan psikoterapi yang tersedia. Jenis yang akan digunakan oleh psikolog Anda bergantung sesuai kebutuhan, penelitian psikologis terbaru dan pedoman berdasar teori dari psikolog Anda. Pengobatan psikoterapi yang biasanya digunakan antara lain sebagai berikut:
•   Psikoterapi psikodinamik atau psikoanalitik – Sebagian besar berdasarkan teori Freudian, psikoterapi jenis ini berkisar mengenai pengertian terhadap masalah yang ada dengan menghidupkan kembali kemungkinan adanya hubungan antara pikiran yang tertekan dan pengalaman masa kecil
•   Terapi perilaku – Dengan terapi perilaku, Anda akan didorong untuk melakukan kegiatan yang memperkuat hubungan sosial dan dibina untuk mengerti bahwa perubahan dari perilaku Anda dapat mengubah perasaan Anda
•   Terapi kognitif – Didasari oleh pokok pikiran mengenai bagaimana kita berpikir secara terpusat mempengaruhi perasaan kita, dorongan pada terapi ini adalah mengenai pemikiran terkini dan perilaku serta menantang pemikiran yang keliru
•   Terapi kemanusiaan – Diarahkan menuju kesadaran diri dan mencapai citra diri yang lebih positif, terapi kemanusiaan meliputi penjelajahan pada pikiran, perasaan dan tindakan untuk menerima diri sendiri
Menggabungkan unsur berbeda dari jenis terapi yang berbeda untuk menyesuaikan pengobatan bukanlah suatu hal yang tidak lazim (dikenal sebagai Terapi Terpadu atau Holistik) tergantung kebutuhan Anda. Sebagai tambahan, psikoterapi dapat dilakukan dalam kelompok, seperti untuk pernikahan dan konseling keluarga.
Menjalani Psikoterapi
Saat Anda telah memutuskan mencari pertolongan ahli untuk menangani masalah serius Anda, berikut adalah hal-hal yang dapat harapkan saat sesi psikoterapi. Beberapa sesi pertama kebanyakan akan terpusat pada menjalin hubungan, kepercayaan dan hubungan perawatan dengan psikolog anda. Dapat juga berisi uji penilaian untuk memastikan:
•   Tingkat dari depresi atau kegelisahan anda
•   Ciri dan karateristik kepribadian yang penting
•   Penyelesaian masalah yang tidak sehat, seperti minum minuman keras atau makan berlebihan
•   Kemungkinan ketidakmampuan untuk belajar
•   Penyebab utama dari masalah Anda

Sisanya akan mencakup menyelidiki masalah Anda melalui percakapan. Psikolog akan membimbing Anda dalam menentukan apa yang sebenarnya menganggu Anda serta alasannya. Lalu Anda akan berpindah ke tahap penyelesaian masalah. Disini, Anda bekerja secara beriringan untuk mencari pikiran, perilaku dan perasaan lain yang dapat memberikan Anda pandangan yang lebih positif. Mungkin juga akan diadakan kegiatan bermain peran dan pengembangan keteramplan, dengan latihan di rumah ditengahnya.
Penting bagi pasien untuk menangani masalah mereka dengan terapi berbicara. Beberapa orang biasanya mulai untuk merasakan dan menyadari adanya perkembangan yang berbeda setelah enam sampai tujuh sesi.
Menentukan Kesuksesan dari Psikoterapi
Pada perawatan yang berhasil, hasil dari psikoterapi bergantung dari tiga faktor penting: keahlian klinis psikolog Anda, tepat tidaknya metode pengobatan yang dipilh, dan kepribadian, makna, serta pilihan pasien. Perlu diingat bahwa untuk mencapai hasi psikoterapi yang optimal, harus ada hubungan kerja sama antara pasien dan psikolog. Melalui kerja sama dan keikutsertaan yang aktif, akan ada setidaknya satu perbaikan yang penting dari kondisi berikut:
•   Prestasi sekolah atau pekerjaan yang lebih baik
•   Tampilan yang lebih positif dalam kegiatan sehari-hari
•   Peningkatan dalam mengutarakan emosi
•   Meningkatkan hubungan pernikahan, keluarga atau pertemanan
•   Melaksanakan perilaku yang sehat (seperti menghindari kebiasaan yang tidak sehat seperti kecanduan alkohol atau kebiasaan makan yang berlebih)

Setelah sesi psikoterapi, akan sangat mudah untuk kembali ke kebiasaan dan cara berpikir Anda yang lama. Sangat penting bagi untuk melanjutkan apa yang telah dipelajari dari sesi psikoterapi ke situasi di kehidupan nyata untuk menghindar dari masalah yang sama 

 

Perbedaan Psikoterapi  &  Konseling

Adanya pengertian & konsep yang tumpang tindih antara psikoterapi & konseling yang sulit dihindari, maka dewasa ini kedua istilah ini seringkali muncul bersama.
Namun secara umum, persamaan & perbedaannya dapat dilihat sebagai berikut :

Persamaan :
-       dasar : teori, metode & data ilmiah yang telah dikaji secara empirik (observasi, wawancara, test, teori2)
-       teknik2 ilmiah : pembicaraan, latihan2
-       aturan : biaya, waktu, tempat, alat2,

Perbedaan

Konseling

Psikoterapi
< intensif
> intensif
preventif
Kuratif / reapartif
Fokus : edukasi, vocational, perkembangan
Fokus : remedial
Setting : sekolah, industri, social work,
Setting : rumah sakit, klinik, praktek pribadi,
Jumlah intervensi <
Jumlah intervensi >
supportive
rekonstructive
Penekanan “normal”
/ masalah ringan
Penekanan “disfungsi” / masalah berat
Short term
Long term

Corsini :
Teknik2 / proses2 secara kualitatif sama, tetapi secara kuantitatif berbeda
Persentase waktu yang digunakan oleh konselor & psikoterapis dalam aktivitas profesionalnya :

Proses

Konseling (%)

Psikoterapi (%)


listening
20
60
questioning
15
10
evaluating
5
5
interpreting
1
3
supporting
5
10
explaining
15
5
informing
20
3
advising
10
3
ordering
9
1

Tahap-tahap psikoterapi :

1.      Wawancara awal
-       dikemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan2, yang akan dilakukan terapi & diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama, keterbatasan, dll)
-       akan diketahui apa yang menjadi masalah klien – rapport, klien menceritakan masalah (ada komitmen untuk mengkomunikasikan), terapis & klien bekerjasama
2.      Proses terapi
             -  mengkaji pengalaman klien, hubungan terapis & klien, pengenalan – penjelasan –                pengartian perasaan & pengalaman klien
3.      Pengertian ke tindakan
            -  terapis bersama klien mengkaji & mendiskusikan apa yang telah dipelajari klien selama terapi berlangsung, penngetahuan klien akan aplikasinya nanti di perilaku & kehidupan sehari-hari
4.      Mengakhiri terapi
-       terapi dapat berakhir jika tujuan telah tercapai, klien tidak melanjutkan lagi, atau terapis tidak dapat lagi menolong kliennya (merujuk ke ahli lain)
-       beberapa pertemuan sebelum terapi berakhir klien diberitahu à klien disiapkan untuk menjadi lebih mandiri menghadapi lingkungannya nanti 

Keterampilan Terapis :

meliputi keterapilan dalam komunikasi verbal & non verbal

1.      Komunikasi verbal
 bahasa yang baik & dimengerti oleh klien
2.      Komunikasi non verbal
-       adanya kepekaan terapis dalam menggunakan ekspresi wajah, gerak tangan, ekspresi tubuh, nada suara
-       terapis mampu & tepat dalam mengartikan komunikasi non verbal klien

Komunikasi non verbal :
-       dalam menggunakan waktu
                    :  cepat/lambat menjawab, jumlah waktu yang digunakan, tergesa2/tidak dll
-       dengan menggunakan tubuh
                    :  kontak mata, ekspresi wajah, postur, gerakan2 dll
-       melalui suara :  nada, kecepatan dll
-       melalui penggunaan lingkungan
:  jarak, pakaian, posisi di ruang, dlL

Penggolongan psikoterapi -à 3 kelompok utama :

1.      supportive therapy
2.      reeducative therapy
      3.    reconstructive therapy

Contoh Psikoterapi
Teknik Kogntif
Pendekatan kognitif terdiri dan empat proses:
•   mendapatkan pikiran otomatis
•   menguji pikiran otomatis
•   mengidentifikasi anggapan dasan yang maladaptif
•   menguji keabsahan anggapan maladaptif.'

Mendapatkan pikiran otomatis. Pikiran otomatis adalah kognisi yang menghalangi antara peristiwa eksternal dan reaksi emosional orang terhadap peristiwa. Suatu contoh dari pikiran otomatis adalah keyakinan bahwa “setiap orang akan menertawakan saya jika mereka mengetahui betapa buruknya permainan bowling saya ”.
Menguji pikiran otamatis, dengan berperan sebagai guru, ahli terapis membantu pasien menguji keabsahan pikiran otomatis. Tujuannya adalah untuk mendorong pasien menolak pikiran otomatis yang tidak akurat atau berlebih – lebihan setelah pemeriksaan yang cermat.
Mengidentifikasi asumsi maladaptif , saat pasien dan ahli terapis terus berusaha mengidentifiksi pikiran otomatis, pola biasanya menjadi tampak. Pola mewakili aturan atau anggapan umum yang maladaptif yang menuntun kehidupan pasien. Contoh ” Supaya gembira saya harus sempurna ”. Aturan tersebut akan menyebabkan kekecewaan dan kegagalan dan akhirnya depresi.
Menguji keabsahan asumsi maladaftif, mirip dengan pengujian keabsahan pikiran otomatis adalah menguji keakuratan anggapan maladapatif. Satu tes yang cukup efektif adalah bagi ahli terapi untuk meminta pasien mempertahankan keabsahan suatu asumsi. Sebagai contohnya, jika pasien menyatakan bahwa ia harus selalu membangun kemampuannya. Ahli terapi dapat bertarya, “Mengapa hal tersebut sangat penting bagi anda?”4

Teknik Perilaku
Teknik perilaku bekerja sama dengan teknik kognitif: Teknik perilaku digunakan untuk menguji dan mengubah kognisi maladaptif dan tidak akurat. Tujuan keseluruhan teknik adalah untuk membantu pasien mengerti ketidakakuratan asumsi kognitifnya dan mempelajari strategi dan cara baru tnenghadapi masalah tersebut.
Di antara teknik perilaku yang digunakan dalam terapi adalah menjadwalkan aktivitas, pengusaan dan kesenangan, menyusun tugas bertahap, latihan kognitif, latihan kepercayaan din, permainan peran (role playing), dan teknik pengalihan.2,4

Manfaat
Terapi kognitif dapat digunakan sendiri dalam terapi gangguan depresif ringan sampai sedang atau bersarna-saina dengan medikasi antidepresan untuk gangguan depresif berat.  Ini adalah salah satu intervensi psikoterapik yang paling berguna untuk gangguan depresif. Terapi kognitif juga telah dipelajari dalam hubungannya meningkatkan kepatuhan dengan lithium pada pasien gangguan bipolar I dan sebagai pengobatan putus heroin.4

HIPNOTERAPI
Pasien yang dalam trance hipnotik dapat mengingat ingatan yang tidak ada dalam kesadaran dalam keadaan nonhipnotik. Ingatan tersebut dapat digunakan dalam terapi untuk memperkuat hipotesis psikoanalitik terlepas dan dinamika pasien atau memungkinkan pasien menggunakan menggunakan ingatan tersebut sebagai katalis untuk asosiasi baru.6

Indikasi dan Pemakaian
Hipnosis telah digunakan, dengan berbagai tingkat keberhasilan, untuk mengendalikan obesitas dan gangguan berhubungan zat, seperti penyalahgunaan alkohol dan ketergantungan nikotin. Cara ini telah digunakan untuk menginduksi anestesia, dan pembedahan besar telah dilakukan tanpa anestetik kecuali hipnosis. Hipnosis juga ielah digunakan untuk menangani gangguan nyeri kronis, asma, kutil, pruritis, aforia, dan gangguan konversi.6
Relaksasi dapat dicapai dengan mudah dengan hipnosis, sehingga pasien dapat mengatasi fobia dengan mengendalikan kecemasan mereka. Hipnosis juga telah digunakan untuk menginduksi relaksasi dalam desensitisasi sistematik.

Kontraindikasi
Pasien yang dihipnosis berbeda. dalam keadaan ketergantungan atipikal dengan ahli terapi, sehingga suatu transferensi yang kuat dapat berkernbang, ditandai oleh perlekatan positif yang harus dihormati dan diinterpretasikan. Dalam keadaan lain dapat terjadi transferensi negatif pada pasien yang rapuh atau yang memiliki kesulitan dalam tes realitas. Pasien yang memiliki kesulitan dengan kepercayaan dasar, seperti pasien paranoid atau yang memiliki masalah pengendalian, seperti pasien obsesif kompu1sif, adalah bukan calon yang baik untuk hipnosis. Sistem nilai etik yang kuat adalah penting untuk semua terapi dan khususnya untuk hipnoterapi, di mana pasien (khususnya mereka yang berada dalam trance) adalah sangat mudah disugesti dan ditundukkan. Terdapat pertentangan tentang apakah pasien akan melakukan tindakan selama keadaan trance yang mereka rasakan menjijikan pada keadaan lain atau yang bertentangan dengan kode moral rnereka. 6
Hipnosa dapat membantu psikoterapi, akan tetapi apa yang dapat dicapai dengan hipnosa dalam psikoterapi, dapat juga dicapai dengan cara yang lain tanpa hipnosa. Hipnosa hanya dapat mempercepat pengaruh psikoterapi.
Hal yang penting dalam hipnosa ialah sugesti (bukan kekuatan kemampuan terapis hipnotisir). Kesadaran pasien menyempit dan menurun, akhirnya ia hanya menerima rangsangan dari hipnotisir, ia masuk ke dalam keadaan “trance” mulai dari ringan sampai ke “trance” yang dalam dengan kekakuan otot di seluruh badan.
Dalam hipnosa dapat dilakukan analisa konflik-konflik dan sintesa, atau sintesa dilanjutkan sesudah pasien sadar kembali. Dalam hal ini sugesti dalam waktu hipnosa dan sugesti sesudah hipnosa dapat dipakai.2,3,4

NARKOTERAPI
Secara intravena disuntikkan suatu hipnotikum dengan efek yang pendek (umpamanya penthothal atau amital natrium). Dalam keadaan setengah tidur pasien diwawancara, konflik dianalisa, lalu disintesa. Bahan yang timbul sewaktu narkoterapi dapat juga dipakai dalam sintesa sesudah pasien sadar kembali.
Narkoterapi dengan narkoanalisa dan narkosintesa itu membantu psikoterapi. Pemakaian narkoanalisa di luar bidang pengobatan (umpamanya untuk pengusutan perkara bagi penelitian) tidak dapat dibenarkan, baik atas dasar etik dan moral, maupun teknis-medis (apa yang dikatakan oleh individu dalam keadaan itu tidak selalu benar, tetapi mungkin karena sugesti pemeriksa; jadi obat yang dipakai untuk narkoanalisa bukan merupakan “serum kebenaran” yang sungguh-sungguh, seperti apa yang pernah dihebohkan oleh surat kabar dan oleh majalah).2

Referensi:
American Psychological Association: “Understanding Psychotherapy and How It Works” Available: http://www.apa.org/helpcenter/understanding-psychotherapy.aspx


Nordqvist, C. (2009). “What is psychotherapy? What are the benefits of psychotherapy?” Medical News Today. Available: http://www.medicalnewstoday.com/articles/156433.php

Srini.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/.../tespengantr-fix.doc

Https://yumizone.wordpress.com/2009/07/22/psikoterapi/






Saturday, January 16, 2016

Sikap pekerja & Kepuasan kerja (Psikologi Manajemen)


A. TEORI-TEORI KEPUASAN KERJA

Menurut Wexley dan Yukl (1977) teori-teori tentang kepuasan kerja ada tiga macam yang lazim dikenal yaitu:

1. Teori Perbandingan Intrapersonal (Discrepancy Theory)

Kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh individu merupakan hasil dari perbandingan atau kesenjangan yang dilakukan oleh diri sendiri terhadap berbagai macam hal yang sudah diperolehnya dari pekerjaan dan yang menjadi harapannya. Kepuasan akan dirasakan oleh individu tersebut bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan kecil, sebaliknya ketidakpuasan akan dirasakan oleh individu bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan besar.

2. Teori Keadilan (Equity Theory)

Seseorang akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity atau inequity atas suatu situasi diperoleh seseorang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor, maupunditempat lain.

3. Teori Dua – Faktor (Two Factor Theory)

Prinsip dari teori ini adalah bahwa kepuasan dan ketidakpuasan kerja merupakan dua hal yang berbeda. Menurut teori ini, karakteristik pekerjaan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yang satu dinamakan Dissatisfier atau hygiene factors dan yang lain dinamakan satisfier atau motivators.
Satisfier atau motivators adalah faktor-faktor atau situasi yang dibuktikannya sebagai sumber kepuasan kerja yang terdiri dari prestasi, pengakuan, wewenang, tanggungjawab dan promosi. Dikatakan tidak adanya kondisi-kondisi ini bukan berarti membuktikan kondisi sangat tidak puas, tetapi kalau ada, akan membentuk motivasi kuat yang menghasilkan prestasi kerja yang baik. Oleh sebab itu faktor ini disebut sebagai pemuas. Hygiene factors adalah faktor-faktor yang terbukti menjadi sumber kepuasan, terdiri dari gaji, insentif, pengawasan, hubungan pribadi, kondisi kerja dan status.


B. DETERMINAN SIKAP KERJA

Sikap kerja dapat dijadikan indikator apakah suatu pekerjaan berjalan lancar atau tidak. Jika sikap kerja dilaksanakan dengan baik, pekerjaan akan berjalan lancar. Jika tidak berarti akan mengalami kesulitan. Tetapi, bukan berarti adanya kesulitan karena tidak dipatuhinya sikap kerja, melainkan ada masalah lain lagi dalam hubungan antara karyawan yang akibatnya sikap kerjanya diabaikan.

1. Menurut para tokoh :

Gibson (1997), menjelaskan sikap sebagai perasaan positif atau negatif atau keadaan mental yang selalu disiapkan, dipelajari dan diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh khusus pada respon seseorang terhadap orang, obyek ataupun keadaan. Sikap lebih merupakan determinan perilaku sebab, sikap berkaitan dengan persepsi, kepribadian dan motivasi.
Sada (2000), adalah tindakan yang akan diambil karyawan dan segala sesuatu yang harus dilakukan karyawan tersebut yang hasilnya sebanding dengan usaha yang dilakukan.

2. Sikap yang positif :

Kemauan untuk bekerja sama. Bekerja sama dengan orang-orang dalam suatu kelompok akan memungkinkan perusahaan dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin dicapai oleh orang-orang secara individual.
Rasa memiliki. Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan akan membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan bertanggung jawab terhadap perusahaan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan loyalitas demi tercapainya tjuan perusahaan.
Hubungan antar pribadi. Karyawan yang mempunyai loyalitas karyawan tinggi mereka akan mempunyai sikap fleksibel kea rah tete hubungan antara pribadi. Hubungan antara pribadi ini meliputi : hubungan social diantara karyawan. Hubungan yang harmonis antara atasan dan karyawan, situasi kerja dan sugesti dari teman sekerja.
Suka terhadap pekerjaan. Perusahaan harus dapat menghadapi kenyataan bahwa karyawannya tiap hari dating untu bekerja sama sebagai manusia seutuhnya dalam hal melakukan pekerjaan yang aakan dilakukan dengan senang hati sebagai indikatornya bisa dilihat dari : kesanggupan karyawan dalam bekerja, karyawan tidak kpernah menuntut apa yang diterimanya di luar gaji pokok.

3. Faktor-faktor Sikap Kerja

Menurut Blum and Naylor (Aniek, 2005) terdapat beberapa factor yang mempengaruhi sikap kerja, diantaranya:


Kondisi Kerja → Situasi kerja yang meliputi lingkungan fisik ataupun lingkungan social yang menjamin akan mempengaruhi kenyamanan dalam bekerja. Karena dengan adanya rasa nyaman akan mempengaruhi semangat dan kualitas karyawan.
Pengawasan Atasan → Seorang pimpinan yang melakukan pengawasan terhadap karyawan dengan baik dan penuh perhatian pada umumnya berpengaruh terhadap sikap dan semangat kerja karyawan.
Kerja sama dari teman sekerja → Adanya teman sekerja yang dapat berkerjasama akan sangat mendukung kualitas dan prestasi dalam menyelesaikan pekerjaan.
Keamanan → Adanya rasa aman yang tercipta serta lingkungan yang terjaga akan menjamin dan menambah ketenangan dalam pekerjaan.
Kesempatan untuk maju → Adanya jaminan masa depan yang lebih baik dalam hal karier baik promosi jabatan dan jaminan hari tua.
Fasilitas kerja → Tersedianya fasilitas-fasilitas yang dapat digunakan karyawan dalam pekerjaannya.
Upah atau Gaji → Rasa senang terhadap imbalan yang diberikan perusahaan baik yang berupa gaji pokok, tunjangan dan sebagainya yang dapat mempengaruhi sikap karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya.


C. PENGUKURAN SIKAP KERJA

Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk mendapatkan hasil kerja yang optimal. Ketika seorang merasakan kepuasan dalam bekerja tentunya ia akan berupaya semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan tugas pekerjaannya. Dengan demikian produktivitas dan hasil kerja karyawan akan meningkat secara optimal.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan pada dasarnya secara praktis dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam diri dan dibawa oleh setiap karyawan sejak mulai bekerja di tempat pekerjaannya, Sebagai contoh, karyawan yang sudah lama bekerja memiliki kecenderungan lebih puas dibandingkan dengan karyawan yang belum lama bekerja (Doering et al., 1983) Faktor eksentrinsik menyangkut hal-hal yang berasal dari luar diri karyawan, antara lain kondisi fisik lingkungan kerja, interaksinya dengan karyawan lain, sistem penggajian dan sebagainya.

Secara teoritis, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja sangat banyak jumlahnya, seperti gayakepemimpinan, produktivitas kerja, perilaku, locus of control , pemenuhan harapan penggajian dan efektivitas kerja.

1. Salah satu cara untuk menentukan apakah pekerja puas dengan pekerjaannya atau tidak, ialah dengan membandingkan pekerjaan mereka dengan beberapa pekerjaan ideal tertentu (teori kesenjangan).

2. Faktor-faktor yang biasanya digunakan untuk mengukur kepuasan kerja seorang pegawai diantaranya :

Isi pekerjaan, penampilan tugas pekerjaan yang aktual dan sebagai kontrol terhadap pekerjaan
Supervise
Organisasi dan manajemen
Kesempatan untuk maju
Gaji dan keuntungan dalam bidang finansial lainnya seperti adanya insentif
Rekan kerja
Kondisi pekerjaan

3. Menurut Job Descriptive Index (JDI) faktor penyebab kepuasan kerja, pengukuran sikap/kepuasan kerja, diantaranya :

Bekerja pada tempat yang tepat
Pembayaran yang sesuai
Organisasi dan manajemen
Supervisi pada pekerjaan yang tepat
Orang yang berada dalam pekerjaan yang tepat

Kesimpulan

Jadi menurut Wexley dan Yukl (1977) teori-teori tentang kepuasan kerja ada tiga macam yang lazim dikenal yaitu:


1. Teori Perbandingan Intrapersonal (Discrepancy Theory)
2. Teori Keadilan (Equity Theory)
3. Teori Dua – Faktor (Two Factor Theory)

Sikap kerja dapat dijadikan indikator apakah suatu pekerjaan berjalan lancar atau tidak. Jika sikap kerja dilaksanakan dengan baik, pekerjaan akan berjalan lancar.




Daftar Pustaka

Gibson, J.L., Ivancevich, J.M., Donnelly, Jr., J.H., 1990, Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses (Terj.).Jakarta: Erlangga.

Handoko, T. Hani. 2001. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Yogjakarta: BPFE .

Friday, January 8, 2016

Hubungan Antara Pelaksanaan Kerja dan Kepuasan Kerja

Hubungan antara kepuasan kerja dengan variabel lain dapat bersifat positif atau negatif. Kekuatan hubungan mepunyai rentang dari lemah sampai kuat. Hubungan yang kuat menunjukkan bahwa atasan dapat mempengaruhi dengan signifikan variabel lainnya dengan meningkatkan kepuasan kerja (Kreitner dan Kinicki, 2001: 226) 
Beberapa korelasi kepuasan kerja antara lain:  
1.Motivasi 
Antara motivasi dan kepuasan kerja terdapat hubungan yang positif dan signifikan. Karena kepuasan dengan pengawasan/supervisi juga mempunyai korelasi signifikan dengan motivasi, atasan/manajer disarankan mempertimbangkan bagaimana perilaku mereka mempengaruhi kepuasan pekerja sehingga mereka secara potensial dapat meningkatkan motivasi pekerja melalui berbagai usaha untuk meningkatkan kepuasan kerja.
2.Pelibatan Kerja 
Hal ini menunjukkan kenyataan dimana individu secara pribadi dilibatkan dengan peran kerjanya. Karena pelibatan kerja mempunyai hubungan dengan kepuasan kerja, dan peran atasan/manajer perlu didorong memperkuat lingkungan kerja yang memuaskan untuk meningkatkan keterlibatan kerja pekerja. 
3.Organizational citizenship behavior 
Merupakan perilaku pekerja di luar dari apa yang menjadi tugasnya. 
4.Organizational commitment 
Mencerminkan tingkatan dimana individu mengidentifikasi dengan organisasi dan mempunyai komitmen terhadap tujuannya. Antara komitmen organisasi dengan kepuasan terdapat hubungan yang sifnifikan dan kuat, karena meningkatnya kepuasan kerja akan menimbulkan tingkat komitmen yang lebih tinggi. Selanjutnya komitmen yang lebih tinggi dapat meningkatkan produktivitas kerja. 
5.Ketidakhadiran (absenteisme) 
Antara ketidakhadiran dan kepuasan terdapat korelasi negatif yang kuat. Dengan kata lain apabila kepuasan meningkat, ketidakhadiran akan turun. 
6.Perputaran (turn over) 
Hubungan antara perputaran dengan kepuasan adalah negatif. Dimana perputaran dapat mengganggu kontinuitas organisasi dan mahal sehingga diharapkan atasan/manajer dapat meningkatkan kepuasan kerja dengan mengurangi perputaran. 
7.Perasaan Stress 
Antara perasaan stres dengan kepuasan kerja menunjukkan hubungan negatif dimana dengan meningkatnya kepuasan kerja akan mengurangi dampak negatif stres. 
8.Prestasi kerja 
Terdapat hubungan positif rendah antara kepuasan dan prestasi kerja. Sementara itu menurut Gibson (2000:110) menggambarkan hubungan timbal balik antara kepuasan dan kinerja. Di satu sisi dikatakan kepuasan kerja menyebabkan peningkatan kinerja sehingga pekerja yang puas akan lebih produktif. Di sisi lain terjadi kepuasan kerja disebabkan oleh adanya kinerja atau prestasi kerja sehingga pekerja yang lebih produktif akan mendapatkan kepuasan. 
Selanjutnya dibahas tiga model yang mencerminkan hubungan-hubungan yang berbeda antara sikap dan motivasi untuk performance secara efektif. Pada model A, kondisi kerja mempengaruhi sikap tenaga kerja terhadap pekerjaan dan organisasi, dan sikap ini secara langsung mempengaruhi secara langsung besarnya upaya untuk melakukan pekerjaan. Pada model B, Sikap kerja merupakan akibat dari, dan bukan yang menetukan motivasi kerja dan unjuk kerja. Pada model C, mengungkapkan bahwa tidak ada hubungan kausal langsung antara sikap kerja dan unjuk kerja. Sikap tidak menyebabkan timbulnya unjuk kerja tertentu. Sikap kerja yang dibicarakan dalam model A, B, dan C mengungkapkan kepuasan kerja. Makin positif sikap kerjanya, semakin besar kepuasan kerjanya.

#Mencegah dan mengatasi ketidakpuasan kerja# 
Upaya mengatasi ketidakpuasan kerja secara umum oleh para individu karyawan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 
1.Mengidentifikasi apa saja, kapan dan dimana ketidakpuasan kerja itu terjadi; bisa saja dalam waktu-waktu dan lokasi kerja tertentu dapat menyebabkan timbulnya ketidakpuasan kerja, mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya ketidakpuasan kerja dan apa akibatnya terhadap kondisi fisik, psikis, mutu proses dan kinerja,
2.Kalau faktor penyebabnya lebih pada diri sendiri maka yang harus dilakukan adalah; 
a.Mengkondisikan dirinya untuk memandang bekerja itu adalah ibadah,  aktualisasi diri, dan menyenangi pekerjaannya;
b.Memelajari dan mengambil teladan yang baik dari mitra kerjanya yang mampu mengatasi ketidakpusan kerja;
c.Menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja;
d.Meningkatkan relasi sosial horisontal dan vertikal di tempat kerjanya;
e.Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan;
f.Mendiskusikan kondisi dan masalah ketidakpuasan dengan pihak manajer dan kalau memungkinkan dengan manajemen puncak. 
3.Sementara itu untuk kepentingan organisasi, maka yang dapat dilakukan pihak manajemen adalah sebagai berikut: 

Seperti halnya di tingkat individu karyawan maka pihak manajemen juga perlu mengidentifikasi faktor-faktor yang berkait dengan ketidakpuasan kerja karyawannya,setelah mengetahui penyebab ketidakpuasan kerja maka beberapa hal yang dapat dilakukan pihak manajemen adalah:        
1)Membuat lingkungan kerja yang nyaman dan tidak membosankan; untuk itu diperlukan penyegaran karyawan dalam bentuk peningkatan sumberdaya manusia, penyempurnaan lingkungan fisik, dan keeratan hubungan sosial baik dengan karyawan lain maupun dengan pimpinan;
        
2)Memberi pengakuan tentang keberadaan karyawan dengan mendorong dan melibatkan karyawan dalam menyusun rencana dan evaluasi kerja sesuai dengan kemampuannya;
        
3)Memerkecil kejenuhan kerja karena terlalu lama bekerja di tempat atau posisi tertentu dengan melakukan perputaran karyawan secara regular misalnya rotasi dan mutasi    
4)Menempatkan karyawan dalam posisi tertentu sesuai dengan latar belakang kompetensi dan minatnya;
        
5)Menerapkan sistem manajemen kinerja, kompensasi, dan karir secara adil dan transparan;
        
6)Menyediakan unit bimbingan dan konseling untuk para karyawan khususnya yang memiliki ketidakpuasan kerja dengan tujuan meningkatkan motivasi kerja mereka.
          
Bentuk-bentuk upaya mengatasi ketidakpuasan kerja oleh karyawan dan manajemen tentunya sangat bervariasi sesuai dengan faktor penyebabnya. Dengan kata lain upayanya harus spesifik. Namun kalau untuk semua karyawan maka pihak manajemen perlu membuat kebijakan yang menekankan pencegahan agar ekonomis efisien ketimbang tindakan yang bersifat kuratif dan bakal mahal.

Sumber : 
P.Siagian, Sondang, Prof. Dr. MPA.(1988). Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta : Rineka Citra.   
Sihotang. A. Drs. M.B.A. (2006).Menejemen Sumber Daya Manusia .Jakarta : PT Pradnya Paramita. 

Teori-Teori Kepuasan Kerja (Psikologi Manajemen)

1.Teori Perbandingan Intrapersonal (Discrepancy Theory) 
Kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh individu merupakan hasil dari perbandingan atau kesenjangan yang dilakukan oleh diri sendiri terhadap berbagai macam hal yang sudah diperolehnya dari pekerjaan dan yang menjadi harapannya. Kepuasan akan dirasakan oleh individu tersebut bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan kecil, sebaliknya ketidakpuasan akan dirasakan oleh individu bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan besar. 
2.Teori Keadilan (Equity Theory) 
Seseorang akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity atau inequity atas suatu situasi diperoleh seseorang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor, maupunditempat lain. 
3. Teori Dua – Faktor (Two Factor Theory) 
Prinsip dari teori ini adalah bahwa kepuasan dan ketidakpuasan kerja merupakan dua hal yang berbeda. Menurut teori ini, karakteristik pekerjaan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yang satu dinamakan Dissatisfier atau hygiene factors dan yang lain dinamakan satisfier atau motivators 
#Determinan Sikap Kerja# 
Sikap kerja dapat dijadikan indikator apakah suatu pekerjaan berjalan lancar atau tidak. Jika sikap kerja dilaksanakan dengan baik, pekerjaan akan berjalan lancar. Jika tidak berarti akan mengalami kesulitan. Tetapi, bukan berarti adanya kesulitan karena tidak dipatuhinya sikap kerja, melainkan ada masalah lain lagi dalam hubungan antara karyawan yang akibatnya sikap kerjanya diabaikan. Sikap kerja mempunyai sisi mental yang mempengaruhi individu dalam memberikan reaksi terhadap stimulus mengenai dirinya diperoleh dari pengalaman dapat merespon stimulus tidaklah sama. Ada yang merespon secara positif dan ada yang merespon secara negative. Karyawan yang memiliki loyalitas tinggi akan memiliki sikap kerja yang positif. 
#Pengukuran Sikap Kerja# 
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan pada dasarnya secara praktis dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam diri dan dibawa oleh setiap karyawan sejak mulai bekerja di tempat pekerjaannya, Sebagai contoh, karyawan yang sudah lama bekerja memiliki kecenderungan lebih puas dibandingkan dengan karyawan yang belum lama bekerja (Doering et al., 1983) Faktor eksentrinsik menyangkut hal-hal yang berasal dari luar diri karyawan, antara lain kondisi fisik lingkungan kerja, interaksinya dengan karyawan lain, sistem penggajian dan sebagainya.


Sumber :

P.Siagian, Sondang, Prof. Dr. MPA.(1988). Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta : Rineka Citra.  
Sihotang. A. Drs. M.B.A. (2006).Menejemen Sumber Daya Manusia .Jakarta : PT Pradnya Paramita.