Saturday, October 10, 2015

Komunikasi


KOMUNIKASI


DEFENISI KOMUNIKASI
Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward(1998:16) mengenai komunikasi manusia yaitu:
Human communication is the process through which individuals –in relationships, group, organizations and societies—respond to and create messages to adapt to the environment and one another. Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain.
Untuk memahami pengertian komunikasi tersebut sehingga dapat dilancarkan secara efektif dalam Effendy(1994:10) bahwa para peminat komunikasi sering kali mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society. Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?
Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu,yaitu:
  • Komunikator (siapa yang mengatakan?)
  • Pesan (mengatakan apa?)
  • Media (melalui saluran/ channel/media apa?)
  • Komunikan (kepada siapa?)
  • Efek (dengan dampak/efek apa?).
Jadi berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, secara sederhana proses komunikasi adalah pihak komunikator membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran tertentu kepada pihak penerima yang menimbulkan efek tertentu.

Komunikasi terbagi dua yaitu verbal dan non verbal.
  • Komunikasi verbal yaitu suatu proses komunikasi dengan menggunakan simbol atau lambang-lambang. Simbol-simbol yang digunakan selain sudah ada yang diterima menurut konvensi internasional seperti simbol lalu-lintas, alfabet latin, simbol matematika, juga .terdapat simbol-simbol lokal yang hanya bisa dimengerti oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu.
  • komunikasi non verbal adalah proses komunikasi dengan menggunakan kode non verbal. Kode non verbal biasa disebut bahasa isyarat atau bahasa diam (silent language), maupun bahasa tubuh (body language).
Unsur-unsur penting lainnya dalam komunikasi adalah dengan adanya : sumber, pesan, media, penerima, efek dan umpan balik.
  1. Sumber
Adalah pembuat atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antar manusia, sumber bisa terdiri dari satu orang, tetapi bisa juga dalam kelompok misalnya partai, organisasi atau lembaga. Sumber biasa disebut juga komunikator atau dalam bahasa Inggrisnya disebut source, sender atau decoder.
  1. Pesan
Adalah sesuatu yang disampaikan oleh pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka atau melalui media komunikasi.
Media yang dimaksud di sini adalah alat yang digunakan untuk   memindahkan pesan dari sumber kepada penerima.
Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih. Penerima biasa disebut komunikan atau dalam bahasa Inggris disebut audience atau receiver.
  1. Efek
Efek atau pengaruh adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh ini bisa tergantung dari pengetahuan, sikap dan tingkah laku seseorang. (De Fleur, 1982)
  1. Umpan Balik.
Adalah suatu bentuk tanggapan balik dari penerima setelah memperoleh pesan yang diterima.
KONSEPTUAL KOMUNIKASI
Deddy Mulyana (2005:61-69) mengkategorikan definisi-definisi tentang komunikasi dalam tiga konseptual yaitu:
  • Komunikasi sebagai tindakan satu arah.
Suatu pemahaman komunikasi sebagai penyampaian pesan searah dari seseorang (atau lembaga) kepada seseorang (sekelompok orang) lainnya, baik secara langsung (tatap muka) ataupun melalui media, seperti surat (selebaran), surat kabar, majalah, radio, atau televisi. Pemahaman komunikasi sebagai proses searah sebenarnya kurang sesuai bila diterapkan pada komunikasi tatapmuka, namun tidak terlalu keliru bila diterapkan pada komunikasi publik (pidato) yang tidak melibatkan tanya jawab. Pemahaman komunikasi dalam konsep ini, sebagai definisi berorientasi-sumber. Definisi seperti ini mengisyaratkan komunikasi semua kegiatan yang secara sengaja dilakukan seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respon orang lain. Dalam konteks ini, komunikasi dianggap suatu tindakan yang disengaja untuk menyampaikan pesan demi memenuhi kebutuhan komunikator, seperti menjelaskan sesuatu sesuatu kepada orang lain atau membujuk untuk melakukan sesuatu.
Beberapa definisi komunikasi dalam konseptual tindakan satu arah:
  • Everet M. Rogers: komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku.
  • Gerald R. Miller: komunikasi terjadi ketika suatu sumber menyampaikan suatu pesan kepada penerima dengan niat yang disadari untuk mempengaruhi perilaku penerima.
  • Carld R. Miller: komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunkate).
  • Theodore M. Newcomb: Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber kepada penerima.
  • Komunikasi sebagai interaksi.
Pandangan ini menyetarakan komunikasi dengan suatu proses sebab-akibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergantian. Seseorang menyampaikan pesan, baik verbal atau nonverbal, seorang penerima bereaksi dengan memberi jawaban verbal atau nonverbal, kemudian orang pertama bereaksi lagi setelah menerima respon atau umpan balik dari orang kedua, dan begitu seterusnya.
Contoh definisi komunikasi dalam konsep ini, Shanon dan Weaver (dalam Wiryanto, 2004), komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak sengaja dan tidak terbatas pada bentuk pada bentuk komunikasi verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni , dan teknologi.
  • Komunikasi sebagai transaksi.
Pandangan ini menyatakan bahwa komunikasi adalah proses yang dinamis yang secara sinambungan mengubah phak-pihak yang berkomunikasi. Berdasrkan pandangan ini, maka orang-orang yang berkomunikasi dianggap sebagai komunikator yang secara aktif mengirimkan dan menafsirkan pesan. Setiap saat mereka bertukar pesan verbal dan atau pesan nonverbal.
Sumber :
Cangara, Hafidz,2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta:PT RajaGrafindo Persada
Onong Ichjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan praktek, CV. Remaja Karya, Bandung. 1985
Sendjaja,Sasa Djuarsa,1994,Pengantar Komunikasi,Jakarta:Universitas Terbuka.
Analisa dari Defenisi Komunikasi
Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia.
Ada 2 proses Komunikasi yaitu :
  • Proses komunikasi secara Primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah pesan verbal (bahasa), dan pesan nonverbal (kial/gesture, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya) yang secara langsung dapat/mampu menerjemahkan pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan.
  • Proses komunikasi secara Sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
 Fungsi dari komunikasi yaitu :
  • Sebagai komunikasi sosial
Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang bersifat menghibur, dan memupuk hubungan hubungan orang lain. Melalui komunikasi kita bekerja sama dengan anggota masyarakat (keluarga, kelompok belajar, perguruan tinggi, RT, desa, …, negara secara keseluruhan) untuk mencapai tujuan bersama.
  • Sebagai komunikasi ekspresif
Komunikasi berfungsi untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi) kita. Perasaan-perasaan tersebut terutama dikomunikasikan melalui pesan-pesan nonverbal. Perasaan sayang, peduli, rindu, simpati, gembira, sedih, takut, prihatin, marah dan benci dapat disampaikan lewat kata-kata, namun bisa disampaikan secara lebih ekpresif lewat perilaku nonverbal. Seorang ibu menunjukkan kasih sayangnya dengan membelai kepala anaknya. Orang dapat menyalurkan kemarahannya dengan mengumpat, mengepalkan tangan seraya melototkan matanya, mahasiswa memprotes kebijakan penguasa negara atau penguasa kampus dengan melakukan demontrasi.
  • Sebagai komunikasi ritual
Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun dan sepanjang hidup, yang disebut para antropolog sebaga rites of passage, mulai dari upacara kelahiran, sunatan, ulang tahun, pertunangan, siraman, pernikahan, dan lain-lain. Dalam acara-acara itu orang mengucapkan kata-kata atau perilaku-perilaku tertentu yang bersifat simbolik. Ritus-ritus lain seperti berdoa (salat, sembahyang, misa), membaca kitab suci, naik haji, upacara bendera (termasuk menyanyikan lagu kebangsaan), upacara wisuda, perayaan lebaran (Idul Fitri) atau Natal, juga adalah komunikasi ritual. Mereka yang berpartisipasi dalam bentuk komunikasi ritual tersebut menegaskan kembali komitmen mereka kepada tradisi keluarga, suku, bangsa. Negara, ideologi, atau agama mereka.
  • Sebagai komunikasi instrumental
Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum, yaitu: menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap, menggerakkan tindakan, dan juga menghibur.
I 

Saturday, October 3, 2015

Psikologi Manajemen Tugas 1

A. Pengertian Psikologi Manajemen

            Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Stoner). Psikologi manajemen adalah suatu ilmu yang mengatur sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri. Ilmu psikologi sangat berkaitan dengan manajemen karena sumber daya manusia adalah hal terpenting dan ilmu psikologi mengacu pada manusia, dapat membangkitkan motivasi, sikap kerja, keterampilan, dll dengan bermacam-macam metode dan teknik agar bekerja dengan maksimal untuk produktivitas perusahaan.


B. Pengertian Organisasi
            Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama (Stoner). Organisasi merupakan suatu sistem aktifitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih (Chester I. Bernard). Organisasi merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mecapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan (Stephen P. Robbins).
            Jadi dapat dikatakan juga bahwa organisasi sebagai proses pembagian tugas
yang diikuti pelimpahan wewenang dan tanggung jawab, kegiatan penyusunan, pengembangan, pemeliharaan dari pola hubungan kerja individu yang saling bergantung dalam satu kesatuan di dalam suatu organisasi atau wadah.


Sumber :
Siti Partini Suardiman. 1980. Kelompok dan Kepemimpinan. Yogyakarta: FIP IKIP Yogyakarta
Riyono Bagus dan Emi Zulaifah. 2001. Psikologi Kepemimpinan. Yogyakarta: Unit Publikasi Fakultas Psikologi UGM

Monday, March 30, 2015

Kesehatan Mental

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental dan Konsep Kesehatan Mental


SEJARAH KESEHATAN MENTAL
Kesehatan mental? jika mendengar dua kata tersebut, mungkin banyak orang yang belum mengerti apa itu kesehatan mental dan bagaimana asal usul atau sejarahnya sampai ada pembelajaran tentang kesehatan mental khususnya bagi ilmu psikologi.
Sejarah kesehatan mental tidak seperti sejarah ilmu kedokteran yang dengan jelas tergambarkan. Hal itu disebabkan karena “Mental” adalah sesuatu yang tidak dapat dengan jelas terlihat oleh kasat mata. Sedangkan gangguan fisik dapat dengan mudah kita lihat dan dapat dengan mudah terdeteksi. Individu yang terkena gangguan kesehatan mental sangat sulit untuk diketahui, bahkan bagi orang terdekatnya sekalipun. Karena orang-orang yang terdekatnya hanya menganggap hal itu sebagai hal yang biasa, bukan sebagai gangguan.
Di negara kita khususnya masyarakat Indonesia, masalah kesehatan mental sampai saat ini belum terlalu mendapatkan perhatian yang serius. Semua itu dikarenakan taraf pendidikan yang masih beragam dan budaya yang beragam pula sehingga membawa dampak kurangnya kepekaan masyarakat akan pentingnya kesehatan mental.
Berikut ini perkembangan sejarah kesehatan mental :

GANGGUAN MENTAL TIDAK DIANGGAP SEBAGAI SAKIT
Pada Tahun 1600 dan Sebelumnya
Suku asli Indian khususnya dukun indian menyimpulkan, orang yang mengalami gangguan mental dapat disembuhkan dengan cara menggunakan kekuatan supranatural dan menjalani ritual penyucian.
Masyarakat indian pada saat itu mengaggap orang yang terkena gangguan mental itu sebenarnya orang yang kemasukan roh-roh yang ada di sekitar mereka. Mereka menganggap kalau orang yang bersangkutan telah melakukan kesalahan sehingga kemasukan roh. Maka dari itu orang Indian tidak menganggap orang yang terkena gangguan mental itu berarti sakit, sehingga mereka tetap masih dapat tinggal hidup bersama.

Tahun 1692
Sejarah kesehatan mental di Eropa (Inggris), sedikit berbeda dengan sejarah di waktu sebelumnya.
John Locke (1690), menyatakan bahwa terdapat derajat kegilaan dalam diri setiap orang yang disebabkan oleh emosi yang memaksa orang untuk memunculkan ide-ide salah dan tidak masuk akal secara terus menerus. Kegilaan adalah ketidakmampuan akal untuk mengeluarkan gagasan yang berhubungan dengan pengalaman secara tepat.

GANGGUAN MENTAL DIANGGAP SEBAGAI SAKIT
Tahun 1724
Pada abad ke 19, Phillipe Pinel di Perancis dan Dorothea Dix, membuat lompatan besar dengan mempromosikan penanganan manusiawi bagi penderita penyakit mental tetapi kondisinya masih jauh dari ideal. Phillipe pinel ditunjuk sebagai dokter yang mengawasi pasien rumah sakit jiwa. Dia tidak merantai orang yang sakit jiwa.

Tahun 1812
Antara tahun 1830-1860 di Inggris timbul optimisme dalam menangani pasien skit jiwa. Pada masa ini tumbuh kepercayaan bahwa penanganan di rumah sakit jiwa merupakan hal yang benar dan cara ilmiah untuk menyembuhkan kegilaan. Pada tahun 1842 psikiater mulai masuk dan mendapatkan peranan penting di rumah sakit untuk menggantikan ahli hukum yang selama itu berperan. Namun  karena penanganan di masa ini banyak menemukan kegagalan, maka tidak lama muncul terapi pesimisme.

Tahun 1843
Kurang lebih terdapat 24 rumah sakit, tetapi hanya ada 2561 tempat tidur yang tersedia untuk menangani penyakit mental di Amerika Serikat.

Tahun 1908
Ditahun ini seseorang yang mengalami gangguan mental mendapat penanganan di rumah sakit yang tidak manusiawi dan mengalami penyiksaan fisik dan mental dibawah kekuasaan yang tidak terlatih dan tidak kompeten dirumah sakit.

Tahun 1909
Sigmund Freud mengunjungi Amerika dan mengajar psikoanalisa di Universitas Clark di Worcester, Massachusetts.

Tahun 1910
Emil Kraepelin pertama kali menggambarkan penyakit Alzheimer. Dia juga mengembangkan alat tes yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya gangguan epilepsi.

Tahun 1918
Asosiasi Psikoanalisa Amerika membuat aturan bahwa hanya orang yang btelah lulus dari sekolah kedokteran dan menjalankan praktek psikiatri yang dapat menjadi calon untuk pelatihan psikoanalisa.

Tahun 1930
Psikiater mulai menginjeksikan insulin yang menyebabkan shock dan koma sementara sebagai suatu treatmen untuk penderita schizofrenia.

Tahun 1936
Agas Moniz mempublikasikan suatu laporan mengenai lobotomi frontal manusia yang pertama. Akibatnya antara tahun 1936 sampai pertengahan 1950-an, diperkirakan 20000 prosedur pembedahan ini digunakan terhadap pasien mental Amerika.

Tahun 1940
Elektroterapi, yaitu terapi dengan cara mengaplikasikan listrik ke otak. Pertama kali digunakan di rumah sakit Amerika untuk menangani penyakit mental.

Tahun 1947
Fountain House di New York City memulai rehabilitasi psikiatrik untuk orang yang mengalami sakit mental.

Tahun 1950
Dibentuk National Association of Mental Health (NAMH) yang nerupakan merger dari tiga organisasi, yaitu National Committee for Mental Hygiene, National Mental Health Foundatio, dan Psychiatric Foundation.

Tahun 1952
Obat antipsikokotik konvensional pertama, yaitu chlorpromazine, diperkenalkan untuk menangani pasien schizofrenia dan gangguan mental utama lainnya.

Tahun 1960
Obat-obat antipsikotik konvensional, seperti haloperidol, digunakan pertama kali untuk mengontrol simtom-simtom yang positif pada penderita psikosis, yang memberikan ukuran yang nyata dan penting karena membuat pasien tenang.
Media inggris mulai mengungkapkan kesehatan mental dengan menampilkan orang-orang yang pernah mengalami sakit mental untuk menceritakan pengalaman mereka. Segala hal yang tabu mulai diungkap secara umum.

GANGGUAN MENTAL DIANGGAP SEBAGAI BUKAN SAKIT
Tahun 1961
Thomas Szasz membuat tulisan berjudul The Myth of Mental Illness, yang mengemukakan dasar teori yang menyatakan bahwa “sakit mental” sebenarnya tidaklah benar-benar “sakit’, tetapi merupakan tindakan orang yang secara mental tertekan karena harus bereaksi terhadap lingkungan.

Tahun 1962
Ada 422000 orang yang tinggal di rumah sakit untuk perawatan psikiatris di Amerika Serikat.

Tahun 1970
Mulainya deinstitusionalisasi massal. Pasien dan keluarga mereka kembali pada sumber-sumber mereka sendiri sebagai akibat kurangnya program-program bagi pasien yang telah keluar dari rumah sakit untuk rehabilitasi dan reintegrasi kembali ke masyarakat.

Tahun 1979
NAMH menjadi the National Mental Health Association (NMHA).

Tahun 1980
Munculnya perawatan yang terencana, yaitu dengan opname di rumah sakit dalam jangka waktu yang pendek dan treatmen masyarakat menjadi standar bagi perawatan penyakit mental.

MELAWAN DISKRIMINASI TERHADAP GANGGUAN MENTAL
Tahun 1990
NMHA memainkan peran penting dalam memunculkan Disabilities Act, yang melindungi warga Amerika yang secara mental dan fisik disable dari diskriminasi pada beberapa wilayah, seperti pekerjaan, akomodasi publik, transportasi, telekomunikasi, dan pelayanan pemerintah pusat dan lokal.

Tahun 1994
Obat antipsikotik atipikal yang pertama diperkenalkan. Ini merupakan obat antipsikotik baru pertama setelah hampir 20 tahun penggunaan obat-obatan konvensional.

Tahun 1997
Peneliti menemukan kaitan genetik pada gangguan bipolar yang menunjukkan bahwa penyakit ini diturunkan.
Berdasarkan sejarah kesehatan mental tersebut, dapat disimpulkan bahwa ternyata pandangan masyarakat terhadap apa yang disebut sebagai sakit mental atau sakit jiwa ternyata berbeda-beda dan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Makna gangguan mental yang berbeda-beda membawa implikasi yang berbeda juga dalam menangani individu yang terkena gangguan mental.
Gangguan mental juga bisa dinamakan bukan penyakit, tetapi sebagai tindakan kriminal seperti yang pernah dipahami oleh masyarakat Inggris. Penderitanya dimasukkan ke dalam penjara.
Gangguan mental pernah dinamaknai sebagai ketidakmampuan untuk berpikir rasional. Orang yang terganggu mentalnya dipandang memiliki pola pikir irasional. Hal ini dipengaruhi oleh filsafat rasionalisme dan empirisme yang saat itu memiliki pengaruh yang kuat di Eropa.

KESIMPULAN :
Sejarah kesehatan mental merupakan cerminan pandangan masyarakat terhadap gangguan mental dan perlakuan yang diberikan. Ada beberapa pandangan masyarakat terhadap gangguan mental di dunia Barat, yaitu :
  1. Akibat kekuatan supranatural
  2. Kemasukan roh atau setan
  3. Dianggap kriminal karena memilih derajad kebinatangan yang besar
  4. Dianggap memiliki cara berpikir irasional
  5. Dianggap sakit
  6. Merupakan reaksi terhadap tekanan atau stres, merupakan perilaku        maladaptif
  7. Melarikan diri dari tanggungjawab

    KONSEP KESEHATAN MENTAL
   A. Pengaruh Budaya Terhadap Konsep Sehat dan Sakit serta Implikasinya terhadap Perilaku
1.      Arti Sehat
Menurut Freund (1991), berdasarkan kutipan the International Dictionary of Medicine and Biology, kesehatan adalah suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya, yang dicirikan oleh fungsi yang normal dan tidak adanya penyakit, juga sampai pada kesimpulan mengenai kesehatan sebagai suatu keadaan tidak adanya penyakit sebagai salah satu ciri kalau organisme disebut sehat.

2.      Pengaruh Budaya terhadap Konsep Kesehatan
Pengaruh budaya juga merupakan penentu konsep kesehatan. Hal ini mengacu pada pengertian kesehatan yang dibuat oleh WHO, yaitu kesehatan adalah keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani) dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.pengertian itu berdampak kebijakan di bidang kesehatan mengalami perubahan.
Berbagai teknologi modern ditemukan sehingga berbagai macam penyakit dan gangguan lainnya bisa diatasi. Saat ini usaha-usaha itu mengalami pergeseran. Upaya kesehatan saat ini mengacu kepada usaha pencegahan terhadap kemungkinan menurunnya kualitas hidup individu sehingga kondisi sehat bisa dijaga sedemikian rupa dan penyakit tidak sampai dialami oleh individu. Bidang-bidang baru mulai bermunculan, seperti sosiologi kesehatan, antropologi kesehatan, psikologi kesehatan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Perhatian mengenai kesehatan dalam kaitannya dengan keanekaragaman budaya juga menjadi salah satu bidang kajian yang diminati oleh psikologi lintas budaya (Berry, 1999).

3.      Model-model Kesehatan Barat dan Timur
Model-model kesehatan muncul karena banyaknya asumsi mengenai kesehatan, seperti halnya model kesehatan dari Barat dan juga Timur. Akan tetapi, dalam model-model itu terdapat variasi yang disebabkan karena adanya perbedaan budaya di antara model-model tersebut.
Model Biomedis (Freund, 1991)memiliki 5 asumsi. Pertama, terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu. Kedua, penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, baik secara biokimia atau neurofisiologis. Ketiga,setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang berpotensi dapat diidentifikasi. Keempat, melihat tubuh sebagai suatu mesin. Kelima, konseb tubuh adalah objel yang perlu diatur dan dikontrol.
Model Psikiatris, merupakan model yang berkaitan dengan model biomedis. Model ini masih mendasarkan diri pada pencarian bukti-bukti fisik dari suatu oenyakit dan penggunaan  treatmen fisik obat-obatan atau pembedahan untuk mengoreksi abnormalitas.
Model Psikosomatis (Tamm, 1993), merupakan model yang muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap model biomedis. Model ini menyatakan bahwa tidak ada penyakit somatik yang tanpa disebabkan oleh antesenden emosional dan atau sosial. Sebaliknya tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom-simtom somatik.

4.      Pemahaman Tentang Penyakit
Istilah penyakit terbagi ke dalam dua istilah, yaitu Illness dan Disease. Kata Illness digunakan untuk menyatakan apa yang dirasakan oleh pasien ketika dia datang ke dokter. Sedangkan kata Disease untuk menyatakan apa yang dibawa pasien ke rumah sakit dari ruangan dokter. Dengan demikian penyakit “Disease” adalah sesuatu yang dimiliki organ, sedangkan “Illness”adalah sesuatu yang dimiliki manusia, yaitu respons subjektif pasien dan segala sesuatu yang meliputinya.

5.      Implikasi Perbedaan Konsep Kesehatan dan Penyakit terhadap Perilaku
Istilah-istilah yang digunakan dalam dunia kesehatan :
Diagnosis, gangguan yang sama dan bisa dilaporkan dengan gejala yang berbeda.
Treatmen, pengobatan sistem Barat bertumpu pada pemberian obat antibiotik atau pembedahan pada bagian-bagian tubuh yang sakit.
Plasebo, pada pengobatan Barat memiliki konotasi yang negatif sehingga sering kali dicoba untuk dihilangkan atau diminimalkan pengaruhnya oleh dunia kedokteran Barat.
Relasi dokter-pasien, pada sistem pengobatan Barat bercirikan mekanistik, impersonal, dan reduksionistik. Dokter mengambil sikap lebih tahu dari pasien, superior serta keputusan. Sementara pasien mengambil sikap pasif serta diharapkan menuruti apa yang dimaui dokter.

Ciri-ciri Tingkah Laku Sehat dan Normal
Adapun ciri-ciri individu yang normal atau sehat (Warga, 1983) pada umumnya sebagai berikut :
  • Bertingkah laku menurut norma-norma sosial yang diakui
  • Mampu mengolah emosi
  • Mampu mengaktualkan potensi-potensi yang dimiliki
  • Dapat mengikuti kebiasaan-kebiasaan sosial
  • Dapat mengenali resiko dari setiap perbuatan dan kemampuan tersebut digunakan untuk menuntun tingkah lakunya
  • Mampu menunda keinginan sesaat untuk mencapai tujuan jangka panjang
  • Dapat belajar dari pengalaman
  • Biasanya gembira





SUMBER :
Whitbourne,Halgin.Psikologi Abnormal.Jakarta:Salemba Humanika.201­­0

Saturday, January 10, 2015

Fenomena-Fenomena Psikologi dan Internet


Seks Dalam Internet
Cybersex, saat ini telah menjadi sebuah fenomena seksual yang bertumbuh cukup pesat, terutama di kota-kota besar dimana internet semakin mudah diakses. Apalagi ditambah pula semakin menjamurnya situs porno, fasilitas chatting yang menawarkan webcam dan internet phone.
Bila sudah menjadi kecanduan, cybersex ini menjadi kombinasi adiksi, yaitu adiksi seks dan adiksi internet, dimana seseorang secara berulang menggunakan fasilitas internet guna pemuasan hasrat seksualnya. Secara harfiah, cybersex dapat diartikan sebagai pemuasan hasrat seksual menggunakan fasilitas internet. Bahkan, fenomena ini telah merambah dunia bisnis, tentunya untuk meraup keuntungan dari berbagai jasa yang ditawarkan.
Secara garis besar terdapat 3 kategori cybersex:

– Online porn: gambar porno, dan cerita-cerita erotis
- Real time interaction: chatting dimana topik yang dibicarakan adalah seks, “berhubungan seksual” lewat dunia maya, webcam sex.
- Multimedia-software: game erotis, video porno.
Selain tentunya penyebab adiksi/kecanduan seperti pada umumnya, cybersex ini dapat menjerat para pelakunya menjadi kecanduan karena:
1. Aksesibilitas
Saat ini fasilitas internet telah dapat diakses dengan sangat mudah. Dalam arti dapat dikonsumsi secara publik dari berbagai golongan sosial tanpa memandang usia, pekerjaan, jenis kelamin, dll.
2. Isolasi
Cybersex menawarkan kesempatan seseorang untuk terpisah dari orang lain, dan lebih jauh lagi untuk terperosok lebih jauh lagi dalam hal fantasi seksualnya tanpa takut tertular penyakit, kehamilan tak diinginkan, dll.
3. Anonim
Kondisi para pelaku cybersex yang anonim ini membuatnya lebih kecanduan menggunakan internet sebagai fasilitas pemuas hasrat seksual. Cybersex menawarkan anonimitas, dimana pelakunya tidak perlu takut dikenali masyarakat bila mengunjungi prostitusi, mengunjungisex shop, striptease club, dll. Dan identitas di dunia maya pun dapat dikaburkan.
4. Terjangkau
Saat ini, fasilitas cybersex sangat terjangkau, dan internet juga cukup murah. Fasilitaschatting gratis, begitupula materi-materi porno yang terkandung dalam berbagai situs porno juga banyak yang dapat dilihat tanpa biaya hingga dapat di-download dengan cepat. Tentu saja dibandingkan dengan jasa prostitusi yang berbayar dan berisiko tertular penyakit.
5. Fantasi
Cybersex juga menawarkan bagi pelakunya untuk berfantasi secara bebas dimana mungkin fantasinya itu bertentangan dengan norma masyarakat. Termasuk didalamnya adalah menentukan kriteria fisik lawan jenis yang diinginkan, skenario chat sex yang akan dinikmati, dll.
Berikut tanda-tanda seseorang yang telah kecanduan seks via internet, seperti dilansir dari onlymyhealth, antara lain:
1.     Menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat hal-hal yang berbau porno di internet, seperti video atau foto-foto porno.
2. Orang kecanduan seks via internet selalu melibatkan diri dalam obrolan seks online. Hal ini merupakan cara untuk menikmati fantasi seksual sehingga melupakan aktivitas lainnya karena terlaru larut obrolannya.
3. Akan berperilaku menjengkelkan jika tidak dapat mengakses internet. Bagi orang yang sudah kecanduan seks via internet tidak akan bersikap normal jika tidak menyalurkan keinginan seksualnya dengan berselancar di dunia maya.
4. Orang yang telah kecanduan seks via internet akan merasa berkurangnya keintiman seksual dan kesenangan dalam kehidupan nyata. Orang tersebut akan membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan seks virtual yang membuatnya lebih puas.
5. Selalu berfantasi tentang seks.
6. Bersikap defensif ketika orang lain memberitahu bahwa dirinya telah menghabiskan waktu berjam-jam di internet. Orang yang telah kecanduan seks via internet selalu takut tertangkap basah oleh orang lain ketika sedang menyalurkan hasrat seksualnya dan membuatnya bersikap skeptis.
7. Selalu merasa bersalah tetapi tidak dapat mengendalikan keinginannya untuk berselancar di dunia maya.
8. Rela menghabiskan banyak uang untuk mengakses situs-situs porno yang berbayar.


REFERENSI
http://addictions.about.com/od/sexaddiction/a/cybersex.htm
http://arman-gabung.blogspot.com



KOLOM PERAN


Jovita Eliana
14513698
Fenomena Seks Dalam Internet
Merlin Arinka
15513447
Fenomena Seks Dalam Internet
Rizqi Tri Wibowo
18513025
Fenomena Seks Dalam Internet
Teguh Arif Permana
18513838
Fenomena Seks Dalam Internet
Aviadi Rahmat Katamsyah
11513518
Fenomena Seks Dalam Internet



LINK KELOMPOK

Jovita Eliana
http://jojovita-journeyoflife.blogspot.com/2015/01/2PA04-Kelompok6-FenomenaFenomenaPsikologiDanInternet.html
Merlin Arinka

Rizqi Tri Wibowo

Teguh Arif Permana

Aviadi Rahmat Katamsyah
http://aviadirkp.blogspot.com/2015/01/2pa04-tugasIII-kelompok6-fenomena-fenomenapsikologidaninternet.html?view=sidebar